Langsung ke konten utama

Red helium 8K | kamera digital cinema

salah satu komponen dari digital cinema adalah kamera digital. untuk membuat digital cinema yang bagus, kita memerlukan kamera yang bagus juga. perkenalkan, Red Helium 8K S35.

bentuknya memang tidak seperti kebanyakan model kamera yang kita kenal, tapi kamera ini sangatlah bertenaga. sampai - sampai skor yang didapat di DxOMarks adalah 108. ya, lebih dari 100. 10 poin lebih tinggi dari skor sensor full-frame yang pernah dicoba sony A7r II.

dengan 35.4 MP dan format APS-H, sensor dari red "monster" tidak bisa diremehkan. ini sangat bagus, DxOMark tidak malu - malu untuk merekomendasikan cinematograpy sensor untuk still image jika dompet kita cukup tebal.

"The helium 8K is an impressive achievement by RED," tulis DxOMark dalam kesimpulan review mereka. "for those with the budget, its top-of-the-line image quality, high frame rate, and 16-bit RAW capture capability absolutely make it worth considering as a competitor to high-end DSLRs and medium-format cameras for still image capture."

satu - satunya sensor lain yang berhasil melewati skor 100 nyatanya adalah sensor RED yang lain, Epic Dragon. sama seperti yang satunya, Helium 8K adalah sebuah prototype, dan tidak secara resmi mengambil posisi A7r II dalam ranking. tapi tetap saja semantik.

sensor ini lebih powerful di hampir setiap sektor. taruh itu dalam sebuah RED WEAON dan Helium 8K S35 bisa mengambil gambar 8K RAW pada 60fps... 60 33MP RAW photo per detik. kamera itu sama saja mengambil gambar 120fps slow motion pada 4k dan 240fps pada FULL HD 2K.

dari dynamic range ke kedalaman warna, sensornya unggul. seperti yang DxOMark tulis , "The red helium 8K is the most impressive sensor we've ever tested.". dengan harga yang cukup mahal sekitar $49,500 untuk model yang paling dasar, RED weapon dengan Helium 8K S35 layak untuk dimiliki.


sumber : https://petapixel.com/2017/01/11/red-helium-8k-earns-insane-dxomark-score-108-highest-ever/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Cara Mengetahui Umur Benda Purba?

Coba tebak, sudah berapa lama Sultan Jogjakarta yang pertama meninggal? Jawabannya mudah. Kita kurangkan saja tanggal hari ini dengan tanggal kematian sang sultan. Tapi, bagaimana kalau kita ditanya, sudah berapa lama Firaun Mesir yang pertama meninggal? Atau, sudah berapa lama kucing kesayangannya meninggal? Pertanyaan semacam ini, tampaknya selalu bisa dijawab oleh para peneliti benda purba. Buktinya, setiap peninggalan bersejarah yang kita lihat di museum selalu ada keterangan umurnya. Namun seperti pertanyaan ini, pernahkah kalian penasaran, bagaimana para peneliti bisa tahu umur mumi, prasasti, atau benda-benda purba lainnya? Padahal, mereka jelas belum lahir pada zaman itu. Apakah mereka cuma asal tebak? Atau jangan-jangan, para peneliti ini diam-diam punya mesin waktu? Ternyata, pengukuran umur benda purba bisa dilakukan secara ilmiah tanpa perlu time-travel, yaitu dengan teknik dating. Bukan… Bukan dating yang itu, tapi dating yang lainnya. Teknik dating benda purba sendiri...

perbedaan animasi 4D dan 5D

Animasi 4D  Tidak berbeda jauh dengan format 3D, hanya saja efek dari film 4D ini, bukan hanya gambarnya saja yang keluar, melainkan ada getaran-getaran atau efek-efek nyata yg dihasilkan. Misalnya saja film-film animasi bertema kehidupan alam, ketika adegan di air, maka ada air yang menyipratkannya ke wajah kita, atau uap air menetes. Lalu ketika adegan gempa bumi, maka kursi yang kita duduki akan bergetar juga, memang unik dan mengasyikan tetapi para penonton pasti tidak akan fokus ke filmnya melainkan ke efeknya saja. Film berformat seperti ini tidak hanya mengacu pada layar bioskop saja, melainkan beberapa aplikasi media seperti penggerak kursi yang menghasilkan getaran, uap air, serta beberapa efek lainnya, termasuk AC yang bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin saat adegan salju, dan Heater yang dapat memanas saat adegan padang pasir. Dan format film ini pun harus diputar pada bioskop-bioskop khusus saja. Sedangkan animasi 5D sebenarnya di beberapa negara eropa ada ne...

Apakah Teori Gravitasi dan Evolusi Hanya Sebuah “Teori”?

Kita tentunya sudah mengenal banyak teori, mulai dari teori evolusi sampai teori gravitasi. Tapi, masih banyak orang yang bilang bahwa teori itu, masih hanyalah sekedar teori.  Tetapi, apakah sebenarnya teori itu? Apakah mereka benar-benar hanya dalam tanda kutip “teori”? Pendeknya, teori dalam sains dan teori yang sering kita gunakan sehari-hari adalah hal yang berbeda. Dalam bidang sains, sebuah teori diawali dengan pengamatan terhadap sekeliling kita, yang diyakini benar, atau disebut sebagai fakta. Misalnya, kita tahu bahwa matahari itu selalu terbit dan terbenam. Dan biasanya kita sebagai manusia, selalu mencoba mencari penjelasan kenapa hal itu terjadi. Misalnya, kita menduga kalau itu terjadi karena matahari selalu bergerak mengelilingi bumi. Dugaan awal ini, disebut sebagai hipotesis. Tetapi hipotesis yang kita ajukan, harus dapat dites dan diuji kembali, untuk dicari tahu kebenarannya. Misalnya, jawaban kita tadi akhirnya diuji, dan ternyata terbukti salah besar, nam...